(Ramule.com) Perjalanan Hidup yang Mulia
Pada
hakikatnya, setiap manusia memiliki kelemahan, begitu juga halnya dengan
Aisyah, yang selain memiliki kehormatan dan martabat juga memiliki kekurangan.
Dalam hal ini dia pernah berkata,
“Aku tidak pernah melihat pembuat makanan
seperti Shafiyyah. Dia selalu menghadiahi makanan kepada Rasulullah. Tanpa
sadar aku pernah memecahkan tempat makanan yang dibawa Shafiyyah. Aku bertanya
kepada Rasulullah apa yang dapat dijadikan sebagai tempat yang pecah itu.
Rasulullab menjawab, ‘Tempat diganti dengan tempat dan makanan diganti dengan
makanan.“ (HR. Bukhari)
Aisyah
pernah berkata :
“Halah
binti Khuwailid, saudara perempuan Khadijah, meminta izin kepada Rasulullah.
Ketika itu Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. merasa bahwa cara Halah
meminta izin sama dengan cara Khadijah meminta izin, dan beliau merasa senang
atas semua itu. Lalu beliau berkata, ‘Ya Allah, inilah Halah binti Khuwailid.’
Aku berkata, ‘Apa yang engkau sebut itu adalab seorang nenek dari nenek-nenek
kaum Quraisy, yang kedua sudut mulutnya merah. Dia telah tua renta ditelan
masa.
Semoga
Allah memberi untukmu pengganti yang lebih baik daripada dia.‘ Mendengar itu
Rasulullah menjawab, ‘Allah tidak akan memberikan pengganti yang lebib baik
darpada Khadijah. Dia telah beriman kepadaku ketika orang lain mengingkariku.
Dia telah mempercayaiku ketika orang lain mendustakanku. Dia telah mendermakan
harta bendanya untuk perjuanganku ketika orang lain menolak memberikan harta
mereka. Allah telah memberkahiku dengan putra-putri lewat Khadijah ketika yang
lain tidak memberiku anak.” (HR. Ahmad dan Muslim)
Terdapat
beberapa pendirian yang tegas dan pemecahan problema hukum yang penting, baik
khusus yang berkaitan dengan wanita maupun secara umum yang berkaitan dengan
kehidupan kaum muslimin secara umum. Diriwayatkan bahwa pada zaman dahulu
seorang laki-laki dapat menceraikan istrinya dengan sekehendak hati. Wanita itu
akan kembali menjadi istrinya jika suaminya membujuk kembali dalam keadaan
iddah, sekalipun dia telah menceraikannya seratus kali. Bahkan suami itu
berkata kepada istrinya, “Demi Allah, aku akan menceraikanmu sehingga engkau
menjadi jelas, dan aku tidak akan memberimu nafkah selamanya”.
Istrinya
menemui Aisyah dan menceritakan. Dia menjawab, Aku menceraikanmu jika iddahmu
hampir berakhir, dan jika engkau telah suci kembali, aku akan merujukmu
kembali. Istrinya menemui Aisyah dan menceritakan masalah yang dihadapinya.
Aisyah terdiarn hingga Rasulullah datang. Beliau pun diam tidak dapat
menyelesaikan masalah tersebut hingga turunlah ayat :
“Talak
(yang dapat dirujuki) dua kali. Setelab itu boleh rujuk lagi dengan cara yang
ma‘ruf atau menceraikannya dengan cara yang baik….” (al-Baqarah : 229)
Dalam
penetapan hukum pun, Aisyah kerap langsung menemui wanita-wanita yang melanggar
syariat Islam. Suatu ketika dia mendengar bahwa kaum wanita dari Hamash di Syam
mandi di tempat pemandian umum. Aisyah mendatangi mereka dan berkata,
“Aku mendengar Rasulullah Shallallahu alaihi
wassalam. bersabda, ‘Perempuan yang menanggalkan pakaiannya di rumah selain
rumah suaminya maka dia telah membuka tabir penutup antara dia dengan
Tuhannya.“ (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah)
Aisyah
pun pernah menyaksikan adanya perubahan pada pakaian yang dikenakan
wanita-wanita Islam setelah Rasulullah wafat. Aisyah menentang perubahan
tersebut seraya berkata, “Seandainya Rasulullah melihat apa yang terjadi pada
wanita (masa kini), niscaya beliau akan melarang mereka memasuki masjid
sebagaimana wanita Israel dilarang memasuki tempat ibadah mereka.”
Di
dalam Thabaqat Ibnu Saad mengatakan bahwa Hafshah binti Abdirrahman menemui
Ummul-Mukminin Aisyah . Ketika itu Hafsyah mengenakan kerudung tipis. Secepat
kilat Aisyah menarik kerudung tersebut dan menggantinya dengan kerudung yang
tebal.
Hadist
yang Diriwayatkan Aisyah
Aisyah
memiliki wawasan ilmu yang luas serta menguasai masalah-masalah keagamaan, baik
yang dikaji dari Al-Qur’an, hadits-hadits Nabi, maupun ilmi fikih. Tentang
masalah ilmu-ilmu yang dimiliki Aisyah ini, di dalam Al-Mustadrak, al-Hakim
mengatakan bahwa sepertiga dari hukum-hukum syariat dinukil dan Aisyah. Abu
Musa al-Asya’ari berkata, “Setiap kali kami menemukan kesulitan, kami temukan
kemudahannya pada Aisyah.” Para sahabat sering meminta pendapat jika menemukan
masalah yang tidak dapat mereka selesaikan sendiri. Aisyah pun sering
mengoreksi ayat, hadits, dan hukum yang keliru diberlakukan untuk kemudian
dijelaskan kembali maksud yang sebenarnya. Salah satu contoh adalah perkataan
yang diungkapkan oleh Abu Hurairah.
Ketika
itu Abu Hurairah merujuk hadits yang diriwayatkan oleh Fadhi ibnu Abbas bahwa
barang siapa yang masih dalam keadaan junub pada terbit fajar, maka dia
dilarang berpuasa. Ketika Abu Hurairah bertanya kepada Aisyah, Aisyah menjawab,
“Rasulullah pernah junub (pada waktu fajar) bukan karena mimpi, kemudian beliau
meneruskan puasanya.” Setelah mengetahui hal itu, Abu Hurairah berkata, “Dia
lebih mengetahui tentang keluarnya hadits tersebut.” Kamar Aisyah lebih banyak
berfungsi scbagai sekolah, yang murid-muridnya berdatangan dari segala penjuru
untuk menuntut ilmu. Bagi murid yang bukan mahramnya, Aisyah senantiasa
membentangkan kain hijab di antara mereka. Aisyah tidak pernah mempermudah
hukum kecuali jika sudah jelas dalilnya dari A1-Qur’an dan Sunnah.
Aisyah
adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah sehingga banyak menyaksikan
turunnya wahyu kepada beliau, sebagairnana perkataannya ini :
“Aku
pernah melihat wahyu turun kepada Rasulullah pada suatu hari yang sangat dingin
sehingga beliau tidak sadarkan diri, sementara keringat bercucuran dari dahi
beliau.“ (HR. Bukhari)
Aisyah
pun memiliki kesempatan untuk bertanya langsung kepada Rasulullah jika
menemukan sesuatu yang belum dia pahami tentang suatu ayat. Dengan demikian
dapat dikatakan bahwa dia memperoleh ilmu langsung dan Rasulullah sebagaimana
ungkapannya ini :
“Aku bertanya kepada Rasulullah tentang ayat
‘Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang
takut….’ (QS. Al-Mu’minun: 60). Apakah yang dimaksud dengan ayat di atas adalah
para peminum khamar dan pencuri?” Beliau menjawab, ‘Bukan, putri ash-Shiddiq!
Mereka adalah orang yang berpuasa, shalat, dan bersedekah, tetapi takut (amal
mereka tidak diterima). Mereka menyegerakan diri dalam kebaikan, tetapi
mendahului (menentukan sendiri) kebaikan tersebut.” (HR. Ibnu Majah dan
Tirmidzi).
Aisyah
berkata lagi: “Aku bertanya kepada Rasulullah tentang firman Allah: ‘Yauma
tabdalul-ardhu ghairal-ardha was-samawati. Di manakah manusia berada, wahai
Rasulullah?” Beliau menjawab, “Manusia berada di atas shirath.“ (HR. Muslim)
Aisyah
termasuk wanita yang banyak menghafalkan hadits-hadits Nabi Shallallahu alaihi
wassalam, sehingga para ahli hadits menernpatkan dia pada urutan kelima dari
para penghafal hadits setelah Abu Hurairah, Ibnu Umar, Anas bin Malik, dan Ibnu
Abbas. Aisyah memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki siapa pun, yaitu
meriwayatkan hadits yang langsung dia peroleh dan Rasulullah dan
menghafalkannya di rumah. Karena itu, sering dia meriwayatkan hadits yang tidak
pernah diriwayatkan oleh perawi hadits lain. Para sahabat penghafal hadits
sering mengunjungi rurnah Aisyah untuk langsung memperoleh hadits Rasulullah
karena kualitas kebenarannya sangat terjamin. Jika berselisih pendapat tentang
suatu masalah, tidak segan-segan mereka meminta penyelesaian dari Aisyah. Qasim
bin Muhammad bin Abu Bakar, anak saudara laki-laki Aisyah, mengatakan bahwa
pada masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar, dan Utsman, Aisyah rnenjadi penasihat
pemerintah hingga wafat.
Aisyah
dikenal sebagai perawi hadits yang mengistinbath hukum sendiri ketika kejelasan
hukumnya tidak ditemukan dalam Al-Qur’an dan hadits lain. Dalam hal ini, Abu
Salamah berkata, “Aku tidak pernah melihat seorang yang lebih mengetahui Sunnah
Rasulullah, lebih benar pendapatnya jika dia berpendapat, lebih mengetahui
bagaimana Al-Qur’an turun, serta lebih mengenal kewajibannya selain Aisyah.”
Suatu
ketika Saad bin Hisyam menemui Aisyah, dan berkata, “Aku ingin bertanya tentang
bagaimana pendapatmu jika aku tetap membujang selarnanya.” Aisyah menjawab,
“Janganlah kau lakukan hal itu, karena aku mendengar Rasulullah Shallallahu
alaihi wassalam. bersabda tentang firman Allah: ‘Telah kami utus rasul-rasul
sebelummu, dan Kami telah ciptakan bagi mereka istri-istri dan keturunan.’ Oleh
karena itu, janganlah kamu membujang.” Urwah bin Zubeir, salah seorang murid
Aisyah, sangat mengagumi keluarbiasaan penguasaan ilmu Aisyah. Dia berkata,
“Aku berpikir tentang urusanmu. Sungguh aku mengagumimu. Menurutku engkau
adalah manusia yang paling banyak mengetahui sesuatu.”
Aisyah
berkata, “Apa yang menyebabkanmu berpendapat seperti itu?” Dia menjawab,
“Engkau adalah istri Nabi Shallallahu alaihi wassalam dan putri Abu Bakar.
Engkau mengetahui hari-hari, nasab, dan syair orang-orang Arab.” Dia berkata
lagi, “Apa yang menyebabkan engkau dan ayahmu menjadi orang yang paling pandai
dariipada seluruh orang Quraisy? Aku sangat mengagumi kepandaianmu tentang ilmu
medis. Dari manakah engkau mendapatkan ilmu itu?” Aisyah menjawab, “Wahai
Urwah, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. sering sakit,
sehingga dokter-dokter Arab dan bukan Arab datang mengobati beliau. Dari
merekalah aku belajar.”
Tentang
penguasaan bahasa dan sastranya, kembali Urwah berkomentar, “Demi Allah, aku
belum pernah melihat seorang pun yang lebih fasih dariipada Aisyah selain
Rasulullah sendiri.” Al-Ahnaf bin Qais berkata, “Aku telah mendengar khutbah
Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Alii bin Abi Thalib. Hingga
saat ini aku belum pernah mendengar satu perkataan pun dari makhluk Tuhan yang
lebih berisi dan baik daripada perkataan Aisyah.” Salah satu contoh
kefasihannya dapat kita lihat dari kata-katanya pada kuburan ayahnya, Abu Bakar
:
“Allah
telah mengilaukan wajahmu, dan bersyukur atas kebaikan yang telah engkau
perbuat. Engkau merendahkan dunia karena engkau berpaling darinya. Akan tetapi,
untuk engkau adalah mulia, karena engkau selalu menghadap untuknya. Kalau
peristiwa terbesar setelah Rasulullah wafat dan musibah terbesar adalah
kematianmu, Kitab Allah rnenghibur dengan kesabaran dan menggantikan yang baik
selainmu. Aku merasakan janji Allah yang telah ditetapkan bagirnu dan ikhlas
atas kepergianmu. Dengan memohon dari-Nya gantimu dan aku berdoa untukmu. Kami
hanyalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali. Bagimu salam sejahtera dan
rahmat Allah.”
Dari
Aisyah pun sering keluar kata-kata hikmah yang terkenal, seperti :
“Bagi
Allah mutiara takwa. Takkan ada kesembuhan bagi orang yang di dalarn hatinya
terbersit kemarahan. Pernikahan adalah perbudakan, maka seseorang hendaklah
melihat kepada siapa dia mengabdikan putri kemuliaannya.”
Seri ketiga klik disini


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !